Menjaga Nyala Silsilah, Merajut Harmoni Nusantara: Perjalanan Historis dan Arah Masa Depan Majelis Agama Buddha Tantrayana Zhen Fo Zong Kasogatan Indonesia
Iin Suwarni
Sekretariat DPP Majelis Zhenfo Zong Kasogatan
Di tengah kekayaan spiritual Nusantara, perjumpaan antara tradisi lokal dan silsilah ajaran modern kerap melahirkan simfoni keagamaan yang agung. Pertemuan sejarah yang paling monumental dalam sejarah Buddhisme Indonesia adalah berpadunya ajaran Tantrayana lokal Nusantara yang dikenal sebagai Kasogatan dengan silsilah ajaran Tantrayana modern Zhenfozong. Peristiwa ini bukan sekadar pergeseran kelembagaan, melainkan sebuah ikhtiar panjang dalam menjaga nyala Dharma agar tetap memancar kokoh di bumi Indonesia. Melalui momen Pasamuan Agung 2026 yang penuh khidmat ini, perjalanan sejarah, dedikasi para perintis, serta langkah strategis organisasi dihadirkan kembali untuk meneguhkan fondasi pergerakan majelis.
Perjumpaan Dua Tradisi: Dari Tangkiwood hingga Caringin 1993
Sebelum era 1970-an, keberadaan umat Tantrayana Kasogatan berada di berbagai pelosok pedesaan di Jawa Tengah, Lampung, hingga Bali. Keterbatasan sarana komunikasi dan transportasi kala itu membuat hubungan antarumat dan koordinasi sangat terbatas, namun semangat umat tetap menyala dilandasi keteguhan mempertahankan warisan Tantrayana Nusantara.
Secara paralel, titik terang juga muncul pada tahun 1986 di daerah Tangkiwood, Jakarta Barat. Kelompok perintis Zhenfozong di bawah pimpinan Romo Harsono menyelenggarakan kegiatan kebaktian rutin menumpang di kelenteng Guang Hua Si. Gotong royong umat melahirkan tempat ibadah Zhenfozong pertama, Vihara Vajra Bumi Jayakarta (Fo Guang Tang) di Muara Karang, Jakarta Utara pada tahun 1987. Peristiwa bersejarah terjadi ketika Romo Oka Diputhera, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Urusan Agama Buddha di Departemen Agama RI menghadiri kebaktian Zhenfozong. Beliau menemukan keselarasan yang mendalam antara pelafalan mantra yang dikumandangkan umat Zhenfozong dengan ajaran Tantrayana Kasogatan yang selama ini dibinanya di daerah-daerah.
Kesadaran akan kesamaan esensi spiritual ini mendorong lahirnya visi besar: menyatukan kekuatan umat pedesaan Kasogatan dengan silsilah dan pembinaan ajaran Zhenfozong di perkotaan. Puncak dari penyatuan historis ini terjadi pada Musyawarah Nasional di Caringin tahun 1993. Di tempat inilah seluruh perwakilan umat sepakat menyatukan organisasi yang di kemudian hari berwujud sebagai Majelis Agama Buddha Tantrayana Zhenfozong Kasogatan Indonesia serta menyatakan bersarana kepada Mahaguru Lian Sheng.
Pasamuan Agung: Milestones Konsolidasi dan Adaptasi Kelembagaan
Pasamuan Agung senantiasa menjadi ruang formil bagi majelis untuk merumuskan arah kebijakan dan merespons dinamika zaman:
-
Pasamuan Agung I (1976): Terbentuknya wadah kebersamaan umat Buddhis Kasogatan dalam Majelis Dharma Duta Kasogatan Indonesia.
-
Pasamuan Agung II (Caringin, 1993): Integrasi umat Kasogatan dan Zhenfozong.
-
Pasamuan Agung III (Yogyakarta, 1989): Memperkokoh penataan organisasi dengan membentuk DPD dan DPW, serta secara resmi menetapkan penamaan Sekte Kasogatan dalam kerangka Tantrayana/Vajrayana, dalam wadah Majelis Agama Buddha Tantrayana Kasogatan Indonesia.
-
Pasamuan Agung IV (Tangerang, 2000): Menjadi tonggak perubahan nama majelis secara resmi menjadi Majelis Agama Buddha Tantrayana Zhenfo Zong Kasogatan Indonesia, merumuskan strategi penanganan tantangan majelis, serta menandai regenerasi kepemimpinan dari Romo Oka Diputhera kepada generasi penerus.
-
Pasamuan Agung V (Tangerang, 2007): Berfokus pada pemantapan program kerja umum dan penguatan tata kelola organisasi.
-
Pasamuan Agung VI (Tangerang, 2013): Penataan ulang struktur organisasi, pembagian tugas kerja, merespons wafatnya para tokoh pendiri, serta mempertegas pengakuan silsilah spiritual kepada Mahaguru Lian Sheng.
-
Pasamuan Agung VII (Tangerang, 2021): Menjadi bukti ketangguhan organisasi yang adaptif dengan menyelenggarakan persidangan secara daring (Zoom) di tengah pembatasan situasi pandemi COVID-19.
Lingkup Majelis Dewasa Ini
Majelis Agama Buddha Tantrayana Zhenfo Zong Kasogatan Indonesia di tahun 2026 menaungi 60 lebih tempat ibadah yang membina puluhan ribuan umat dengan didukung oleh delapan orang acarya, satu orang dharmacarya, sembilan bhiksu, 26 Pandita Dharmaduta dan 51 Pandita Lokapalasraya (Oct 2026). Secara struktur, Dewan Pimpinan Pusat Majelis ditopang oleh 16 Dewan Pimpinan Daerah Provinsi dan 14 Dewan Pimpinan Daerah Kabupaten/Kota.
Jejak Dedikasi Tokoh Kunci dan Strategi Inkulturasi Budaya
Perkembangan majelis di masa awal tidak lepas dari pengorbanan para tokoh perintis. Romo Oka Diputhera hadir sebagai tokoh pemersatu dan integrator birokrasi, sementara Acarya Harsono menjadi pilar utama pelopor spiritual. Diplomasi dan pengawalan legalitas di era Orde Baru diperjuangkan oleh tokoh-tokoh seperti Romo Suraji Aryakertawijaya, Romo Sugito NS, dan Romo Hendro Prawiranegara. Sementara itu, pembinaan di basis-basis pedesaan di Jawa Tengah dan Lampung digerakkan secara aktif oleh Romo Karuna Atmaja, Romo Purnacandra, Romo Lekas Pangestu dan Romo Tikno Tjandranegara.
Tokoh pejuang majelis bidang spiritual saat ini di motori oleh para Acarya, antara lain sosok senior seperti Acarya Shi Lianfei, Acarya Shi Lianyuan, dan Acarya Shi Lianzu, dengan dukungan oleh Pandita Suyamto, Pandita Suprayitno, dan Pandita Waliyono yang membina vihara daerah. Secara organisasi, Ibu Winarni Harsono berperan sebagai penggerak sosial, standardisasi vihara, dan pemberdayaan wanita melalui wadah Wanita Zhenfozong Kasogatan (Wazhenka).
Salah satu keberhasilan terbesar majelis adalah melakukan inkulturasi budaya. Hambatan bahasa dan instrumen ritual pada awal masuknya ajaran diselesaikan secara bijaksana melalui penyusunan Buku Panduan Tata Ritual Kebaktian berbahasa Indonesia yang disahkan langsung oleh Mahaguru Lian Sheng, penampilan kesenian Jawa dalam berbagai kesempatan, serta penyelarasan tradisi lokal tanpa menghilangkan kemurnian ajaran Tantrayana.
Menatap Masa Depan: Arah Regenerasi dan Tantangan Kontemporer
Memasuki era modern, Majelis Agama Buddha Tantrayana Zhenfo Zong Kasogatan Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk terus relevan dan profesional. Empat pilar utama yang menjadi fokus transformasi masa depan meliputi:
-
Profesionalisme Kepengurusan: Mentransformasi kepemimpinan berbasis ketokohan tradisional menuju struktur berbasis kompetensi, pemahaman doktrin yang mendalam, dan tata kelola berstandar tinggi.
-
Peningkatan Kualitas Dharmaduta: Mendorong para pembicara Dharma untuk menempuh pendidikan lanjutan demi meningkatkan mutu pengajaran.
-
Penguatan Sekolah Minggu Buddhis (SMB): Membangun pondasi keyakinan, karakter, dan pemahaman nilai-nilai keagamaan sejak usia dini bagi generasi muda.
-
Pemerataan Kesejahteraan dan Inklusivitas: Menjaga solidaritas sosial di perdesaan melalui program aksi sosial dan gotong royong yang inklusif untuk mempererat keharmonisan antarumat.
Melalui pelaksanaan Pasamuan Agung 2026 ini, seluruh jajaran pengurus, rohaniwan, dan umat diajak untuk merefleksikan kembali semangat para perintis. Dengan memadukan keteguhan silsilah spiritual, tata kelola organisasi yang profesional, serta kepedulian sosial yang inklusif, Majelis Agama Buddha Tantrayana Zhenfo Zong Kasogatan Indonesia siap melangkah mantap menyongsong masa depan.
